Rancangan dan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi
A. Langkah Awal Melakukan Pembelajaran Berdiferensiasi
Sebagai seorang pendidik tentunya sudah tidak asing dengan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sebelum melakukan penyusunan rancangan RPP Suprayogi et. al.(2022) menyebutkan paling tidaknya ada 12 langkah untuk membantu para pendidik dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Apa sajakah itu? Berikut uraiannya:
B. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Berdiferensiasi
Kami yakin, Anda sudah belajar apa dan bagaimana merancang sebuah RPP pada umumnya yang Anda tahu. Anda mungkin sudah tidak asing dengan apa itu RPP. Sekedar mengingatkan kembali, silahkan Anda baca kembali apa itu RPP.
Sebagai pengingat lagi, bahwa RPP adalah sebuah alat perangkat pembelajaran seorang guru dalam mengajar di dalam kelas. RPP dibuat oleh guru untuk membantunya dalam mengajar agar sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada hari tersebut.
RPP berisi pengaturan yang berkenaan dengan perkiraan atau proyeksi tentang apa yang akan dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, kemungkinan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan atau pun tidak karena proses pembelajaran bersifat situasional, apabila perencanaan disusun secara matang maka proses dan hasil pembelajaran tidak akan jauh dari perkiraan.
RPP yang berdiferensiasi ini bisa dijabarkan pada rincian kegiatan, Anda boleh memilihnya berdiferensiasinya pada aspek apa. Apakah pada aspek konten, proses, produk, ataukah lingkungan belajar?
Berikut contoh RPP pembelajaran berdiferensiasi
C. Contoh Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi
Contoh-contoh pembelajaran berdiferensiasi di kelas atau di sekolah regular sudah banyak sajian contoh kasus tertuang pada topik-topik di atas. Anda bisa membaca kembali contoh-contoh kasus pada topik-topik sebelumnya. Dapat Anda temukan tulisan yang berada di kotak-kotak untuk memudahkan Anda mencari contoh-contohnya kembali.
1. Contoh Penerapan di Sekolah Inklusi
Bu Lely merupakan seorang guru di sebuah sekolah inklusi. Ia mengajar di kelas 1 SD dengan jumlah 22 orang siswa. Salah satunya ada siswa dengan autistic spectrum disorder (ASD), sebut saja namanya adalah Arif, berumur 8 tahun.
Bu Lely menggunakan pendekatan individual approach atau merancang beberapa strategi yang dibuat khusus untuk Arif. Bu Lely Menyusun Individual Education Plan (IEP) untuk Arif supaya bisa mengikuti pelajaran.
Ketika pelajaran berlangsung, Arif duduk dekat pada kursi yang telah disediakan khusus untuknya serta didampingi oleh Bu Ramlah sebagai shadow teacher yang membantu Bu Lely dalam menjalankan program untuk Arif.
Arif ikut menyimak penjelasan Bu Lely di depan kelas, namun saat Arief terlihat tidak mengerti dengan penjelasan Bu Lely, maka Bu Ramlah ikut membantu Arif untuk menjelaskan kepada Arif dengan bahasa dan konsep yang tersendiri yang dipakai sehari-hari dan dapat dipahami dengan mudah oleh Arif. Sama halnya ketika Arif terlihat lelah dan tidak konsentrasi dengan penyampaian materi, maka Bu Ramlah bertugas untuk mengajak Arif keluar kelas dan memberikan variasi kegiatan atau permainan sederhana, hal ini disebut dengan teknik pull-out. Atau dirasa ketika Arif tidak dapat mengikuti materi, maka Bu Ramlah membantu Bu Lely untuk memberikan Arif materi yang lain yang sesuai dengan kebutuhan Arif.
Tak jarang teman-teman Arif pun membantu Arif dengan banyak menyapa Arif dan berinteraksi dengannya, sehingga tutorial teman sebaya pun berjalan juga, oleh karena itu Arif juga semakin meningkat kemampuan komunikasinya karena teman-temannya banyak membantu. Tak jarang juga Bu Lely untuk meminta bantuan teman-teman Arif untuk membantu Arif, tidak hanya Bu Ramlah yang berperan aktif membantu Arif. Selain itu, rekan guru-guru yang lain juga tidak pernah lelah juga untuk membantu, menyapa bahkan berinteraksi dengan Arif setiap kali melihat dan bertemu Arif.
Disisi lain, pemenuhan kebutuhan Arif yang dirasa ketika belajar atensinya lebih besar jika menggunakan media visual, maka Bu Lely yang dibantu Bu Ramlah merancang beberapa media yang dapat memenuhi kebutuhan Arif, diantaranya yaitu:
- Media for shaping, diginakan Bu Lely dan Bu Ramlah untuk melatih dan meningkatkan ekspresi verbal dari Arif, sehingga Arif dapat meningkatkan komunikasi mengenai kehidupannya dengan orang lain yang ada di sekitarnya.
- Media for Discrete Trial Training (DTT), dengan bantuan gambar untuk memudahkan Arif mengerti akan sesuatu. Misalnya seperti ini pemberian instruksi, prompting atau memberikan bantuan atau dorongan, kemudian memberikan reward. Media yang digunakan Arif adalah kartu bergambar. Misalkan ketika Bu Lely meminta semua siswa untuk berdiri karena akan melakukan suatu aktivitas, kemudian Bu Lely meminta kepada Arif dengan instruksi “Arif ayo berdiri, ya, begini seperti Bu Lely”, jika Arif tidak merespon, maka Bu Lely memberikan gambar/kartu instruksi berdiri (orang dengan gambar berdiri). Jika Arif melakukannya, maka Bu Lely dan Bu Ramlah memberikan reward berupa pujian kepada Arif, “Hebat, Pintar”.
- Media Matching, digunakan oleh bu Lely dan Bu Ramlah untuk. Melatih Arif mengidentifikasi bentuk yang ada kemudian mencoba untuk mencari persamaan atau menjodohkan.
- Media for discriminating training. Teknik ini sebetulnya mirip dengan media matching, hanya saja lebih banyak gambar yang dipakai, misalnya untuk mengidentifikasi bentuk, warna, tempat, atau bahkan orang yang berbeda. Misalnya Arif belajar tentang alat transportasi dan tempatnya. Ketika pelajaran tematik Bu Ramlah mengajak Arif untuk keluar kelas karena terlihat lelah sehingga mudah sekali untuk Arif tantrum. Bu Ramlah membawa sejumlah kartu keluar kelas dan belajar di luar ruangan, sebelumnya Arif diajak main sebentar. Bu Ramlah meletakan beberapa gambar didepan Arif, ada gambar stasiun, bandara, dan pelabuhan. Setelah itu menginstruksikan Arif, “Ini gambar Apa?” Arif menjawab Pesawat. Bu Ramlah melanjutkan bertanya “Dimanakah pesawat parkir, coba cari gambarnya?” Kemudian Arif mencari dari tiga gambar tersebut. Jika benar Bu Ramlah memberikan reward “pintar”, tetapi jika salah Bu Ramlah memberikan kata-kata punishment, yaitu “tidak”.
- Media for fading techniqueMedia ini juga digunakan oleh Bu Lely dan Bu Ramlah, yaitu berisi kartu bergambar tentang sebuah peraturan-aturan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tujuannya adalah untuk menurunkan tingkat ketergantungan Arif dan meningkatkan tingkat kemandirian Arif.
Pada contoh di atas dapat dilihat bahwa Bu Lely Menyusun IEP untuk Arif dengan bantuan Bu Ramlah merupakan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah inklusi yang menangani peserta didik yang berkebutuhan khusus.
2. Contoh Penerapan dalam Moda Daring
Karena mewabahnya covid 19 belakangan ini tentu membuat sistem pendidikan pun ikut bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Kalau begitu, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan pembelajaran daring belakangan ini, bukan? Mari kita simak contoh pembelajaran daring beserta diferensiasinya:
Bu Melanial mengajar di kelas 6 SD, Mata pelajaran Tematik IPA dengan tema “penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungan”. Bu Melanial menggunakan moda zoom untuk pembelajaran tatap maya.
Sebelum materi dimulai, Bu Melanial menyapa masing-masing siswa dan selalu mengingatkan mereka supaya kamera tetap menyala, “Hallo Verro apa kabar? Mana nih wajah gantengnya, belum terlihat di layar?” Demikian Bu Melanial menyapa siswanya satu persatu.
“Terima kasih Andin, Yara, Ziya, Mawar, Fedrik (menyebutkan semua siswa yg sudah menyalakan kamera) yang sudah menyalakan kameranya. Terima kasih juga Verro dan Kay yang baru saja menyalakan kameranya, semoga kalian semua senang belajar dengan Bu Melanial”.
Setelah semua on camera, Bu Melanial memulai pembelajarannya dengan ice breaking dengan meminta semua menyalakan microphone juga.
Bu Melanial menyapa kelas dengan sebuah yel-yel,
“Kelas 6C dimana, ya”,
“hai, kami disini”, serempak siswa menjawab
“Apa kabar?”
“Kabar dahsyat, hebat, giat”,
“Siapa yang dahsyat?”
“6C”
“Siapa yang hebat?”
“6C”
“Siapa yang giat?”
“6C”
“Tepuk semangat untuk 6C” kemudian tepuk irama dari siswa pun saling bersautan.
Kemudian Bu Melanial menanyakan perasaan mereka pada saat itu, tujuannya adalah supaya tahu masing-masing apa yang mereka rasakan. Bu Melanial menggunakan gambar beragam ekspresi yang di share via zoom. “Bagaimana perasaan Anda saat ini? Silahkan tulis nama Anda pada ekspresi gambar yang mewakili”. Bu Melanialpun mencontohkan, menuliskan namanya pada salah satu gambar tersebut.
“Terima kasih semangatnya pagi ini anak-anak hebat. Kita akan melanjutkan ke materi kita kali ini, ya, yaitu tentang penyesuaian makhluk hidup dengan lingkungan”.
Kemudian Bu Melanial memulai dengan sebuah video interaktif dalam pembelajarannya. Siswanya diminta untuk tetap menyalakan microphonenya kecuali ketika video sedang diputar, tujuannya adalah agar siswa bisa berinteraksi secara langsung, sementara video juga bisa terdengar suaranya ketika mematikan microphone. Selain itu Bu Melanial menggunakan padlet sebagai papan onlinenya, sehingga siswa bisa tetap berinteraksi dan belajar dengan senang.
Ditengah pembelajaran Bu Melanial membagi siswa kedalam 3 (tiga) kelompok untuk mengerjakan tugas, ada berbagai alternatif yang Bu Melanial buat tugasnya, sehingga mereka bisa memilih tugas yang mana yang akan dikerjakan oleh kelompok. Bu Melanial menggunakan breakout room untuk pembagian kelompok, dan sebelumnya Bu Melanial memetakan kebutuhan siswa terlebih dahulu berdasarkan nilai ulangan harian sebelumnya. Adapun kategorinya adalah low (69 kebawah), medium (70-87), dan hight (88 ke atas). Bu Melanial memberikan waktu untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas yang diberikan. Bu Melanial mengunjungi ruang break out room setiap kelompok didahului dari grup hight, karena diasumsikan tidak banyak yang akan dibantu. Kemudian lanjut ke kelompok medium, dan paling terakhir mengunjungi kelompok low, disanalah Bu Melanial banyak memberikan bantuan.
Selain moda daring yang Bu Melanial pakai di atas, banyak moda daring yang Bu Melanial pakai dalam pembelajaran, misalnya menggunakan Quiziz, Kahoot, Google Form, Mentimeter, Edpuzzle, dan masih banyak media pembelajaran online lainnya yang bisa dipakai.
Jelas terlihat pada contoh di atas model pembelajaran diferensiasi yang digunakan , yaitu Bu Melanial tidak melakukan pembelajaran hanya satu arah saja, melainkan melibatkan murid untuk interaktif. Selain itu, Bu Melanial melakukan pemetaan peserta didik berdasarkan nilai ulangan harian sebelumnya. Selain itu, beragam sajian tugas dan peserta didik bisa memilih tugas mana yang akan dikerjakan.
3. Contoh Penerapan di sekolah Multikultural
Perbedaan pada sekolah multikultural adalah terlihat pada ras,etnis, budaya, latar belakang keluarga yang kemungkinan dari pernikahan antar negara, dan yang terlihat paling mencolok adalah perbedaan bahasa yang digunakan oleh guru maupun peserta didik.
Biasanya pada sekolah multicultural, bahasa yang dijadikan pengantar adalah bahasa inggris sebagai bahasa internasional yang digunakan untuk bahasa utamanya. Akan tetapi, peserta didik atau pun pengajar sering kali berasal dari negara yang bukan bahasa inggris sebagai bahasa utamanya.
Karena perbedaan bahasa itulah, sering kali peserta didik yang tidak fasih atau kurang pandai dalam bahasa inggris mereka tidak mengerti materi yang disampaikan oleh gurunya. Begitu pula dengan gurunya, karena faktor bahasa kadang menghambat jalannya pengajaran dan pertukaran informasi antara peserta didik dengan guru.
Berikut Suprayogi et.al (2022) memberikan gambaran pembelajaran berdiferensiasi di sekolah multicultural:
Perbedaan bahasa tidak menjadikan para pengajar kesulitan dalam melakukan pembelajaran, melainkan dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi guru mampu mengatasinya, tentunya dengan menerapkan dan memperhatikan aspek-aspek penting yang ada, yaitu: konten, proses, produk, dan lingkungan belajar.
Pada aspek konten, dapat dilihat, pihak sekolah dan pengajar menerapkannya dengan mempersiapkan dan membuat secara seksama pemetaan-pemetaan kurikulum serta silabus-silabus yang akan dipakai sebagai pedoman bagi pengajar dalam menyampaikan materi dan kegiatan bagi peserta didiknya. Persiapan sumber yang digunakan dan tugas-tugas yang akan diberikan nantinya kepada peserta didik dapat membantu agar pembelajaran berjalan secara efektif.
Pada aspek proses, pengajar menyiapkan dan menyampaikan program-program yang dapat membantu peserta didik seperti adanya program teman membaca, pembuatan portofolio untuk mendokumentasikan karya-karya yang telah peserta didik buat, sekaligus membantu peserta didik untuk dapat melatih kemampuan pemecahan masalah mereka secara kreatif.
Pada aspek produk, setelah seluruh peserta didik mendapatkan materi secara menyeluruh maka selanjutnya mereka dapat menciptakan produk-produk yang tentunya dilakukan sesuai minat dan bakat masing-masing peserta didik, tentunya masih dengan tujuan yang sama pada setiap kegiatannya. Masing-masing peserta didik membuat karya dengan bentuk yang berbeda-beda seperti brosur, poster, komik, power point, dan juga presentasi secara lisan.
Pada aspek lingkungan belajar, pengajar juga telah menyiapkan peralatan-peralatan yang mampu mendukung kegiatan dan juga motivasi para peserta didik untuk belajar, seperti tersedianya perpustakaan mini, pojok baca, inquiry table, hingga reward chart dalam masing-masing kelas.
Penggunaan asesmen pada peserta didik juga merupakan salah satu penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Adapun penilaian-penilaian yang telah dilakukan menggunakan formative assessment dan summative assessment tersebut kemudian dijadikan acuan oleh pengajar sebagai pengelompokkan bagi peserta didik di semester atau kelas selanjutnya.